NASIONAL & INTERNASIONAL
TANAH PAPUA
‹
›
PUISI
AKTIVIS
MILITERISME
SUARA MAHASISWA
VIDEO & FOTO
Demi menjalin persatuan dan kesatuan, Ikatan Lahir dan Besar Wamena
atau yang lebih dikenal Labewa se-Indonesia akan melakukan konser Music
Reggae Night. Kegiatan tersebut pihaknya telah menyediakan karcis
berjumlah 5.000 buah dan acara konser 5 hari terhitung (23-27/07).
Hal tersebut disampaikan ketua panitia pelaksana, Albert Wanimbo,
kegiatan tersebut akan melibatkan sejumlah music band ternama di tanah
Papua dan group-group music lainnya di Lapangan Trikora Abepura, Rabu
(23/07).
“Tujuan dari konser music ini adalah, merangkul semua orang-orang
Lahir dan Besar Wamena (Labewa) yang jalan masing-masing di seluruh
Papua bahkan di seluruh Indonesia. Karena selama ini diketahui Labewa
itu hanya orang Paniai atau hanya orang Pegunungan Bintang saja, padahal
Labewa itu ada dari Biak, Serui, Jayapura bahkan anak-anak dari Ambon
dan daerah lainnya. Sehingga dengan ivent seperti ini kami akan mendata
secara akurat,” kata Albert Wanimbo.
Dikatakan Albert, selain tujuan merangkul juga mencari dana dalam
rangka menyukseskan Rapat Kerja Kepengurusan Labewa tahun 2014. “Tujuan
lainnya yang utama ialah, mencari dana dalam rangka Raker pertama yang
akan kami laksanakan di Wamena tanggal 04 Agustus 2014 mendatang,”
imbuhnya.
Ia menjelaskan, group band ternama di Papua yang akan mengisi selama
kegiatan itu antara lain, Gorby Band, Lunggit Band, Melanesian Band,
D’Sagu Band, Tropikan Band.
“Yang akan jadi bintang tamu dalam konser music ini dari
senior-senior Labewa sendiri, yaitu Lanni Muluk Band. Meraka akan datang
besok dari Wamena. Jadi dalam konser ini akan diisi dengan berbagai
jenis music, reggae, pop dan lainnya,” jelas Wanimbo berbadan gode ini. (Abeth Abraham You)
sumber: http://www.zonadinamika.com/serba-serbi/2014/07/23/labewa-se-indonesia-akan-konser-music-reggae-night
NASIONAL & INTERNASIONAL
![]() |
| Logo Amnesty International. Ist. |
Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH -- Amnesty International menyambut baik bebasnya 4 tahanan nurani (prisoners of conscience)
Forkorus Yaboisembut, Edison Waromi, August Sananay Kraar, Dominikus
Sorabut, dan Selpius Bobii pada hari ini, Senin (21/7/2014).
Pihaknya percaya seharusnya mereka tidak semestinya ditahan karena perjuangan yang dilakukan secara damai dan bermartabat.
"Semuanya dihukum hingga tiga tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jayapura pada Maret 2012 karena aktivitas politik damai mereka. Lembaga kami percaya mereka seharusnya tidak divonis sejak awal," tulis dalam siaran pers yang dikirimkan kepada majalahselangkah.com siang ini.
Lembaga ini mengakui terus prihatin dengan kegagalan pihak berwenang yang terus-menerus membuat pembedaan antara aktivis-aktivis politik damai dengan kelompok-kelompok kekerasan dan puluhan tahanan nurani terus dipenjara di Papua.
Pihaknya juga telah lama menyerukan pembebasan tanpa syarat bagi mereka.
"Kami juga prihatin akan minimnya akuntabilitas seputar pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan pada hari terakhir Kongres Rakyat Papua III pada 19 Oktober 2011 yang menyebabkan kematian tiga orang dan luka-luka pada paling sedikit 90 orang," kata Josef Roy Benedict, Campaigner Amnesty Internasional untuk Indonesia dan Timor-Leste.
Lebih lanjut kata Yosef, "Sementara 17 personel polisi kemudian menerima sanksi administratif karena melanggar prosedur disiplin, proses disiplin internal tidak mencakup dugaan-dugaan pelanggaran HAM yang muncul".
Pihaknya mendesak kepada Kapolda Papua yang baru untuk memastikan bahwa polisi menghormati hak-hak kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai yang dijamin oleh Pasal 19 dan 21 dari Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR).
"Kapolda harus menjamin bahwa semua
anggota pasukan keamanan yang terlibat dalam pelanggaran HAM dimintai
pertanggungjawaban," tambah Yosef. (Mateus Ch. Auwe/MS).
sumber: http://majalahselangkah.com/content/amnesty-international-jokowi-wujudkan-janji-perbaiki-siatuasi-ham-di-indonesia
NASIONAL & INTERNASIONAL
![]() |
| Foto: Victor Yeimo, Rakyat Papua Barat BOIKOT HUT Indonesia/dok. facebook/ist |
KOBOGAUNEWS, Jayapura -- Rakyat
Bangsa Papua Barat BOIKOT apa pun yang merupakan nama NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia). Karena, mereka adalah Penjajah yang hidup
diatas tumpukan darah kami.
Ketua
Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor F. Yeimo mengatakan,
"Selanjutnya, Boikot HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2014 di West Papua!"
tegasnya melalui jaringan sosial, facebook.com Sabtu
(19/07/2014), waktu pagi menjelang siang dari LP AB Jayapura.
Ini isi Seruan Ketua Umum KNPB
Keberhasilan boikot Pilpres Indonesia di atas teritori West Papua adalah manifestasi dari sikap anti kolonialisme yang dilakukan secara sadar oleh rakyat West Papua. Boikot kita selanjutnya adalah terhadap perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Indonesia ke-69 di atas teritori West Papua.
Sudah setengah abad lebih kita dipaksa memiliki ideologi dan nasionalisme Indonesia yang tidak pernah diwariskan atau dilahirkan oleh leluhur kita. Kita tahu, kita tidak pernah dimasukan, apalagi ikut serta, dalam sejarah proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Bangsa Papua tidak pernah ada dalam sejarah pembentukan negara yang bernama Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bersikap menolak! Menolak segala manipulasi dan hegemoni kolonial Indonesia.
Kami menyeruhkan kepada rakyat West Papua yang ada di atas teritori West Papua, maupun diluar West Papua, agar tidak ikut serta menyukseskan, apalagi merayakan, kemerdekaan Indonesia. Sebagai bangsa yang bermartabat, kita juga tetap menghargai dan tidak mengganggu perayaan kemerdekaan mereka (bangsa Indonesia) pada 17 Agustus mendatang. Dan sebaliknya, Indonesia harus menghargai sikap bangsa Papua untuk boikot HUT RI (Rpublik Indonesia) di West Papua.
Kami menyerukan kepada segenap rakyat West Papua agar mengajak dan mengajar kebenaran sejarah kepada sesama keluarga, suku dan bangsamu bahwa bangsa Papua memiliki sejarah kemerdekaannya sendiri tanpa Indonesia. Dengan demikian, rakyat tidak lagi dihasut, dibodohi, atau disogok untuk terlibat secara terus menerus dalam perayaan kemerdekaan 17 Agustus.
Sudah waktunya kita menunjukkan sejarah yang benar kepada penguasa kolonial Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia bahwa bangsa Papua siap untuk bernegara sendiri, berlandaskan pada ideologi dan nasionalismenya sendiri. Penolakan terhadap pendudukan kolonial Indonesia dan segala praktek penjajahannya harus dilakukan dengan sikap boikot tanpa kekerasan.
Kita harus mengakhiri!
Dikeluarkan dari Port Numbay, 19 Juli 2014
Victor F. Yeimo
Ketua KNPB
Tembusan kepada:
1. Buchtar Tabuni, Ketua Parlemen Nasional West Papua [PNWP]
2. Ketua-Ketua Parlemen Rakyat Daerah di West Papua
3. Benny Wenda, Koordinator Diplomat Internasional bagi West Papua
4. Goliat Tabuni, Panglima Tinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN.PB). (KOBOGAUNEWS/ W Kobogau)
Ini isi Seruan Ketua Umum KNPB
Keberhasilan boikot Pilpres Indonesia di atas teritori West Papua adalah manifestasi dari sikap anti kolonialisme yang dilakukan secara sadar oleh rakyat West Papua. Boikot kita selanjutnya adalah terhadap perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Indonesia ke-69 di atas teritori West Papua.
Sudah setengah abad lebih kita dipaksa memiliki ideologi dan nasionalisme Indonesia yang tidak pernah diwariskan atau dilahirkan oleh leluhur kita. Kita tahu, kita tidak pernah dimasukan, apalagi ikut serta, dalam sejarah proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Bangsa Papua tidak pernah ada dalam sejarah pembentukan negara yang bernama Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bersikap menolak! Menolak segala manipulasi dan hegemoni kolonial Indonesia.
Kami menyeruhkan kepada rakyat West Papua yang ada di atas teritori West Papua, maupun diluar West Papua, agar tidak ikut serta menyukseskan, apalagi merayakan, kemerdekaan Indonesia. Sebagai bangsa yang bermartabat, kita juga tetap menghargai dan tidak mengganggu perayaan kemerdekaan mereka (bangsa Indonesia) pada 17 Agustus mendatang. Dan sebaliknya, Indonesia harus menghargai sikap bangsa Papua untuk boikot HUT RI (Rpublik Indonesia) di West Papua.
Kami menyerukan kepada segenap rakyat West Papua agar mengajak dan mengajar kebenaran sejarah kepada sesama keluarga, suku dan bangsamu bahwa bangsa Papua memiliki sejarah kemerdekaannya sendiri tanpa Indonesia. Dengan demikian, rakyat tidak lagi dihasut, dibodohi, atau disogok untuk terlibat secara terus menerus dalam perayaan kemerdekaan 17 Agustus.
Sudah waktunya kita menunjukkan sejarah yang benar kepada penguasa kolonial Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia bahwa bangsa Papua siap untuk bernegara sendiri, berlandaskan pada ideologi dan nasionalismenya sendiri. Penolakan terhadap pendudukan kolonial Indonesia dan segala praktek penjajahannya harus dilakukan dengan sikap boikot tanpa kekerasan.
Kita harus mengakhiri!
Dikeluarkan dari Port Numbay, 19 Juli 2014
Victor F. Yeimo
Ketua KNPB
Tembusan kepada:
1. Buchtar Tabuni, Ketua Parlemen Nasional West Papua [PNWP]
2. Ketua-Ketua Parlemen Rakyat Daerah di West Papua
3. Benny Wenda, Koordinator Diplomat Internasional bagi West Papua
4. Goliat Tabuni, Panglima Tinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN.PB). (KOBOGAUNEWS/ W Kobogau)
sumber: http://www.kobogaunews.com/2014/07/victor-yeimo-rakyat-papua-barat-boikot.html
AKTIVIS - NASIONAL & INTERNASIONAL
![]() |
| Seorang penyidik Malaysia (kiri) menerima sebuah kotak hitam saat kotak itu diserahkan oleh seorang pejabat Republik Rakyat Donetsk di kota Donetsk, Selasa (22/7/2014). |
DONETSK, KOMPAS.COM — Separatis pro-Rusia di Ukraina timur, Selasa (22/7/2014), menyerahkan dua kotak hitam yang ditemukan di lokasi kecelakaan jet penumpang Malaysia Airlines MH17 kepada sejumlah pejabat Malaysia dalam sebuah konferensi pers.
Pada kesempatan itu, mereka juga mengumumkan gencatan senjata dalam radius 10 kilometer di sekitar lokasi kecelakaan demi memungkinkan para penyelidik internasional bisa dengan aman mengakses area luas di mana pesawat itu jatuh pada Kamis lalu.
"Kami telah memutuskan untuk menyerahkan kotak hitam kepada para pakar Malaysia," kata Alexander Borodai, yang memproklamasikan diri sebagai Perdana Menteri Republik Rakyat Donetsk, kepada wartawan.
Tim pakar Malaysia dan perwakilan kelompok separatis itu kemudian menandatangani sebuah protokol sebelum kotak berwarna oranye cerah itu diserahkan.
"Atas nama Pemerintah Malaysia, saya berterima kasih kepada Pemerintah Republik Donetsk karena menyerahkan kepada kami dua kotak hitam yang merupakan milik Malaysia," kata seorang anggota tim Malaysia tersebut. "Kami belum menemukan kotak hitam dari pesawat MH370 (yang hilang di atas Samudra Hindia pada Maret lalu). Jadi, (kami) sangat senang bisa menemukan yang ini. Saya melihat bahwa kotak hitam utuh dengan hanya sedikit kerusakan."
Salah satu dari kotak itu akan berisi semua percakapan di kokpit dan semua data penerbangan lainnya.
Namun, tidak jelas seberapa bergunanya kotak hitam itu dalam menentukan apa yang terjadi pada penerbangan tersebut, yang diyakini Kiev dan para pemimpin dunia telah ditembak jatuh oleh rudal dari darat ke udara.
Para pemberontak separatis yang didukung Rusia, yang mengontrol daerah di mana pesawat itu jatuh, diduga telah menembakkan rudal tersebut. Namun, mereka justru menyalahkan militer Ukraina.
Dunia internasional telah marah dengan dipersulitnya akses ke lokasi kecelakaan itu dan ketakutan pun muncul bahwa pemberontak telah merusak barang bukti.
Borodai akhirnya menyerah pada tuntutan gencatan senjata demi memungkinkan para penyelidik mendapat akses penuh ke lokasi kecelakan tersebut. "Kami akan memerintahkan sebuah gencatan senjata di wilayah 10 kilometer di sekitar lokasi bencana yang telah menewaskan 298 orang itu," katanya.
Para pejabat Malaysia datang dengan membawa serta kereta berpendingin guna mengangkut jenazah para penumpang pesawat naas itu ke kota Kharkiv, yang dikendalikan Pemerintah Ukraina di Kiev.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
| Editor | : Egidius Patnistik |
| Sumber | : AFP http://internasional.kompas.com/read/2014/07/22/08563111/Pemberontak.Ukraina.Serahkan.Kotak.Hitam.MH17.ke.Otoritas.Malaysia |
NASIONAL & INTERNASIONAL
WASHINGTON, KOMPAS.COM — Vladimir Putin tidak punya
hati. Demikian kesimpulan Wakil Presiden AS Joe Biden setelah mengadakan
pertemuan dengan pemimpin Rusia itu di Kremlin tahun 2011. Kesimpulan
tersebut terungkap dalam sebuah artikel di The New Yorker yang dipublikasikan secara online, Senin (21/7/2014) waktu AS.
Biden
mengatakan kepada majalah itu tentang kunjungannya tahun 2011 untuk
bertemu Putin, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia.
Kepada majalah itu Biden mengatakan, ia hanya berdiri beberapa
sentimeter saja dari Putin. Biden lalu berkata, "Pak Perdana Menteri,
saya menatap mata Anda, dan saya tidak berpikir bahwa Anda punya hati."
Menurut Biden, Putin kemudian menatapnya. "Dia tersenyum dan kemudian berkata, 'Kita memahami satu sama lain'."
Penilaian
Biden tersebut sangat kontras dengan penilaian mantan Presiden AS
George W Bush, yang setelah pertemuan pertamanya dengan Putin tahun 2001
mengatakan, "Saya melihat ke mata orang itu... saya dapat merasakan
hatinya."
Komentar Biden tersebut diterbitkan saat Amerika
Serikat dan negara-negara Barat lainnya menyatakan kemarahan terhadap
Rusia terkait jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 minggu lalu di
Ukraina timur yang dikendalikan kaum separatis pro-Rusia. Semua, 298
orang di dalam pesawat itu, tewas. AS dan negara-negara lain menyalahkan
para pemberontak karena menembak jatuh pesawat itu dan menuntut Rusia
untuk bertanggung jawab. Dunia internasional juga menyatakan kegusaran
terkait kesalahan pemberontak dalam menangani para korban di lokasi
kecelakaan.
Biden, yang telah memainkan peran besar dalam
kebijakan luar negeri pemerintahan Obama, juga membahas pertemuannya
dengan para pejabat Ukraina awal tahun ini, kata artikel itu. Menurut
laporan tersebut, para pejabat itu telah mencari bantuan militer AS.
Namun, Biden mengatakan, Amerika hanya bisa memberikan dukungan minimal.
"Kita tidak lagi berpikir dalam istilah Perang Dingin karena sejumlah
alasan," kata Biden kepada majalah tersebut.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
| Editor | : Egidius Patnistik |
| Sumber | : http://internasional.kompas.com/read/2014/07/22/10221351/Wakil.Presiden.AS.Berkata.Putin.Tak.Punya.Hati |
NASIONAL & INTERNASIONAL
![]() |
| Reuters/Al Arabiya Naik unta. |
SANAA, KOMPAS.com - Seorang pria Yaman berencana melakukan perjalanan melintasi Australia, Amerika Selatan dan Eropa menunggang unta untuk mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi. Demikian harian Al Hayatmengabarkan.
Ahmed al-Qassemi akan bergabung dengan iring-iringan fotografer yang akan mendokumentasikan perjalannya. Perjalanan Ahmed akan diawali di Australia pada Oktober mendatang. Sedangkan perjalanan di Amerika Selatan dijadwalkan pada 2016 dan Eropa pada 2017.
Menurut harian Al-Hayat, Ahmed memilih unta sebagai sarana transportasi sebagai penggambaran dunia lama dan menumbuhkan sebuah perasaan nostalgia.
Ini bukanlah kali pertama Ahmed al-Qassimi menunggang unta dalam perjalanan antarnegara. Dia sudah melakukan perjalanan menunggangg unta sejak 1999 melintasi Afrika, Timur Tengah dan Asia.
Untuk membiayai perjalanannya Ahmed biasanya mencari dana dari sponsor dan warga namun tak jarang dia harus menjual barang-barang miliknya untuk menambah biaya. Ayah 10 anak ini menganggap melakukan perjalanan merupakan sebuah sekolah terhebat dalam kehidupannya.
"Saya bisa mengenal orang lain, tradisi dan budaya mereka. Saya belajar bagaimana menjadi orang murah hati dan penyabar," kata Ahmed kepada harian Yemen Times.
Sebelumnya, Ahmed adalah anggota angkatan bersenjata Yaman. Di masa mudanya dia bahkan pernah menjadi pemain sepak bola di salah satu klub di ibu kota Yaman, Sanaa.
Sepanjang perjalanannya, Ahmed mengatakan dia bisa memperkenalkan b budaya Yaman kepada dunia. Salah satu mimpi Ahmed adalah membukukan perjalanannya dan membagi pengalamannya selama bertualang.
| Editor | : Ervan Hardoko |
| Sumber | : Al Arabiya http://internasional.kompas.com/read/2014/07/21/20121961/Pria.Yaman.Berencana.Keliling.Dunia.Naik.Unta |
ARTIKEL & OPINI - NASIONAL & INTERNASIONAL
![]() | |
Oleh Petrus Pit Supardi Jilung #
|
Sejak [8/7], Palestina dan Israel bertikai secara terbuka. Kedua negara saling melepaskan tembakan. Korban pun tidak terhindarkan. Rasa simpati terhadap Palestina datang dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia muncul demo di berbagai daerah untuk mengutuk Israel. Begitu pula ada sumbangan dana dari berbagai komponen masyarakat untuk rakyat Palestina. Bahkan Indonesia, melalui menteri pertahanan Yusgiantoro mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengirim pasukan perdamaian untuk menjaga wilayah Palestina. Tidak ketinggalan kelompok garis keras seperti FPI pun mengklaim akan mengirimkan pasukannya.
Menyimak berbagai berita tersebut, saya pun berpikir tentang realitas sesungguhnya yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua. Bahwa di Papua, hampir setiap hari ada manusia yang mati karena berbagai alasan kesehatan (HIV/AIDS, malaria, gizi buruk). Banyak rakyat yang mati karena menjadi korban penembakan kelompok bersenjata. Bahkan tidak jarang, banyak orang Papua, yang mati di tangan TNI dan Polisi, atas nama kedaulatan NKRI. Bukan itu saja, banyak anak usia sekolah yang terlantar dan tidak menerima pendidikan sebagaimana mestinya. Kalau mau disandingkan, situasi di Papua tidak kalah berbahayanya dengan serangan Israel ke Palestina. Tetapi Papua dan penderitaannya dilupakan oleh Indonesia, bahkan oleh sebagian pejabat orang Papua. Rupanya, kalau orang Papua yang mati, itu biasa, tetapi kalau orang Palestina yang mati karena diterjang oleh peluru Israel itu baru luar biasa.
Kalau rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia begitu peduli pada Palestina, mengapa hal yang sama tidak untuk orang Papua? Mengapa ada diskriminasi yang begitu mendalam antara rakyat Indonesia ras melayu dengan orang Papua yang adalah ras melanesia? Mungkin bagi sebagian orang, masalah Papua itu biasa-biasa saja. Orang hanya berpikir, bahwa masalah Papua adalah masalah uang. Kalau orang Papua dikasih uang, itu sudah cukup! Sesungguhnya, Papua memiliki permasalahan yang kompleks. Papua memiliki sejarah. Papua memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Tetapi, persis di atas kekayaan itulah, orang Papua memiliki sejumlah masalah yang pelik, ibarat benang kusut yang sulit terurai.
Bicara tentang masalah Palestina dan Israel, berarti bicara tentang hak asasi manusia. Kedua negara saling mengklaim batas-batas wilayah dan juga ketenangan hidup. Ketika salah satu dari keduanya mencari masalah, maka perang pun pecah. Seandainya, kelompok garis keras Hamas tidak membunuh ketiga remaja Israel secara keji, dan tidak menembakkan roket-roket mematikan ke wilayah Israel, tentu perang tidak akan terjadi. Mungkin ada motivasi lain yang menyebabkan kedua negara saling berperang. Saya tidak mau masuk ke ranah itu, karena sudah terlalu banyak pihak yang memberi perhatian.
Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa bahwa nuansa keindonesiaan di Papua kian memudar. Situasi ini terjadi karena sikap malas tahu Indonesia terhadap jerit tangis dan penderitaan orang Papua. Indonesia malas tahu dengan orang Papua! Mungkin itu istilah yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Indonesia terhadap orang Papua. Bahkan para pejabat Indonesia, yang berasal dari Papua pun ikut-ikutan malas tahu terhadap sesamanya orang Papua. Contoh ada di depan mata, betapa sulitnya bangun pasar untuk mama-mama Papua di kota Jayapura. Bukan itu saja, para pejabat orang Papua pun kerap mencuri uang rakyatnya. Korupsi merajalela di Papua. Ini kenyataan sosial yang sedang berlangsung di Papua.
Papua memang punya segalanya: emas, hutan, minyak bumi, cenderawasih dan sebagainya, tetapi Papua kurang cantik dan kurang seksi di mata Indonesia. Papua dilihat sebagai pulau orang hitam, keriting, yang berbusana daun dan kulit kayu. Papua hanya menjadi dapur bagi Indonesia. Tetapi anehnya, ketika orang Papua hendak meninggalkan Indonesia, mau merdeka dan berdaulat, Indonesia justru tidak meresponnya. Indonesia takut dan mengirim banyak tentara dan polisi untuk bunuh orang Papua yang minta merdeka. Sesungguhnya, Indonesia terlalu pengecut! Pada titik ini, saya malu menjadi orang Indonesia. Mungkin banyak orang pun malu menjadi orang Indonesia, yang identik dengan teroris, koruptor, plagiat dan berbagai stigma jelek lainnya.
Ibarat pepatah tua: “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang laut tampak.” Itulah Indonesia. Masalah di Papua belum selesai, setiap hari orang Papua mati, tetapi tidak dibiarkan. Sedangkan saat Palestina digempur Israel karena ulahnya, Indonesia langsung bereaksi. Bagi Indonesia Palestina lebih berharga daripada Papua. Sentimen apa yang menyebabkan Indonesia menjadi buta dan tuli terhadap jerit tangis orang Papua? Apakah kemanusiaan orang Palestina lebih utama dibandingkan orang Papua?
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia harus tutup mata terhadap persoalan Palestina-Israel, saya hanya menyesalkan sikap Indonesia yang kurang konsisten memperhatikan rakyatnya sendiri, tetapi mau sibuk dengan negara lain. Indonesia perlu bangun fondasi keindonesiaannya agar mapan, sebelum berkoar-koar mengurusi negara lain. Indonesia perlu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu, sebelum mengirimkan jutaan dolar ke Palestina. Sikap solider Indonesia yang berlebihan kurang tepat. Indonesia perlu menata dirinya terlebih dahulu sebelum sibuk dengan negara lain.
Papua adalah salah satu wilayah yang harus menjadi pusat perhatian Indonesia. Orang Papua terlalu banyak menanggung penderitaan karena sikap malas tahu Indonesia. Kini saatnya Indonesia mengarahkan pandangannya ke ufuk timur dan mulai membangun tanah dan orang Papua. Indonesia perlu bangun Papua dengan segenap hatinya, bukan karena terpaksa atau ada motivasi lainnya. Dibutuhkan kejujuran untuk membangun tanah Papua, bukan sikap pura-pura. Jika Indonesia masih terus berpura-pura dengan orang Papua, sebaiknya biarkan orang Papua menentukan nasibnya sendiri di negerinya. Merdeka!
Oleh Petrus Pit Supardi Jilung
ARTIKEL & OPINI - NASIONAL & INTERNASIONAL
Langganan:
Postingan (Atom)







Recent Comments